![]() |
| Ilustrasi, karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) . (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye) |
MalangBerita.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di zona pelemahan pada awal perdagangan pekan ini. Pada Senin (14/9/2026), mata uang Garuda dibuka pada level Rp17.614 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari Bloomberg, posisi tersebut melemah tipis sekitar 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.611 per dolar AS.
Pelemahan tersebut terbilang terbatas. Namun, pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi ketika sebagian besar mata uang negara-negara Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Sejumlah mata uang kawasan tercatat melemah pada awal perdagangan, antara lain peso Filipina yang turun sekitar 0,19 persen, yen Jepang dan baht Thailand masing-masing 0,18 persen, won Korea Selatan 0,17 persen, serta dolar Taiwan sebesar 0,15 persen. Rupee India, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong juga mengalami pelemahan dalam kisaran yang lebih kecil.
Sementara itu, yuan China justru bergerak berlawanan dengan menguat tipis sekitar 0,02 persen terhadap dolar AS.
Rupiah Masih Dibayangi Sentimen Eksternal
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir tidak terlepas dari perkembangan global. Salah satu perhatian pasar adalah kondisi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan arus perdagangan internasional.
Sejumlah analis juga menyoroti kenaikan harga minyak mentah hingga berada di atas US$100 per barel sebagai risiko bagi Indonesia. Sebagai negara yang masih menjadi importir neto minyak, kenaikan harga tersebut dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi sekaligus memberikan tekanan terhadap neraca transaksi berjalan.
Selain faktor geopolitik dan harga komoditas, kondisi arus modal asing turut menjadi perhatian. Data yang dikutip dari Kontan menunjukkan bahwa aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) pada September masih relatif terbatas, sementara arus keluar dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga tercatat.
Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), rupiah sebelumnya ditutup di posisi Rp17.611 per dolar AS. Angka tersebut melemah 64 poin atau sekitar 0,36 persen dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.
Dengan demikian, pembukaan rupiah di level Rp17.614 pada Senin pagi menunjukkan bahwa mata uang domestik masih menghadapi tekanan, meski pelemahannya relatif tipis.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati berbagai indikator ekonomi global, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, perkembangan geopolitik, pergerakan harga minyak, serta arus modal asing untuk melihat arah rupiah sepanjang perdagangan hari ini.
Pergerakan kurs tersebut juga menjadi perhatian bagi dunia usaha dan masyarakat, terutama pelaku bisnis yang memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar AS. Perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor, harga bahan baku, hingga sejumlah komponen harga barang dan jasa di dalam negeri.










Tidak ada komentar: