Notification

×

Iklan

Iklan



Tag Terpopuler

Sembilan Hari Terjebak di Terowongan, Dua Pekerja PLTA Nepal Berhasil Diselamatkan

Minggu, 06 September 2026 | 12.52 WIB Last Updated 2026-09-06T05:52:22Z
Foto: Para petugas penyelamat mengevakuasi korban yang sembilan hari terjebak di terowongan usai banjir bandang dahsyat menerjang Nepal pada 26 Agustus lalu (REUTERS/Nepal Army).

MalangBerita.com
, NEPAL – Kisah dramatis terjadi di tengah bencana banjir bandang yang melanda Nepal. Dua pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berhasil ditemukan dalam kondisi hidup setelah bertahan selama sembilan hari di dalam sebuah terowongan yang tertimbun material longsor.

Kedua pekerja tersebut merupakan bagian dari proyek pembangkit listrik tenaga air di kawasan Sungai Trishuli. Mereka terperangkap di dalam terowongan setelah banjir bandang dan longsoran besar menerjang wilayah tersebut.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (5/9/2026), kedua korban akhirnya berhasil dievakuasi pada Jumat (4/9) waktu setempat dari area proyek PLTA Upper Trishuli 34.

Kantor Menteri Energi Nepal, Biraj Bhakta Shrestha, menyebut kedua pekerja yang selamat itu adalah Sanjay Sah, seorang mandor mekanik, dan Kabir Maharjan, yang bekerja sebagai pengawas mekanik.

Momen penyelamatan keduanya berlangsung penuh haru. Rekaman yang dibagikan otoritas Nepal memperlihatkan Maharjan berhasil ditarik keluar melalui sebuah lubang yang dibuat tim penyelamat. Sorak-sorai langsung terdengar dari orang-orang yang berada di lokasi.

Setelah berhasil keluar, Maharjan kemudian ditempatkan di atas tandu untuk mendapatkan penanganan medis.

Sementara itu, Sah dievakuasi dengan cara digendong oleh seorang petugas menuju tenda darurat. Tubuh dan wajahnya tampak dipenuhi lumpur setelah berhari-hari berada di dalam terowongan.

Tim medis militer langsung melakukan pemeriksaan terhadap Sah. Dalam rekaman yang dirilis pihak berwenang, terlihat petugas medis memasangkan perangkat bantuan pernapasan dan memeriksa kondisi vital korban.

Seorang pejabat militer setempat mengatakan kondisi vital Sah saat diperiksa masih berada dalam batas normal.

"Namanya Sanjay Sah dan dia bekerja di ruang kendali mekanik. Parameter vitalnya tampak normal," ujar pejabat tersebut.

Cedera yang dialami Sah disebut tidak dalam kondisi kritis. Namun, kondisi Maharjan lebih memprihatinkan. Seorang staf Menteri Energi Nepal kepada Reuters mengatakan Maharjan saat ditemukan tidak mampu menggerakkan tangan maupun kakinya.

Setelah dievakuasi, kedua pekerja tersebut langsung diterbangkan menggunakan helikopter menuju rumah sakit di Kathmandu untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.

Pencarian Menghadapi Medan Ekstrem

Proses penyelamatan kedua pekerja tersebut bukan pekerjaan mudah. Tim SAR harus bekerja di tengah kondisi medan yang berubah drastis akibat banjir bandang dan longsoran.

Operasi penyelamatan bahkan melibatkan sejumlah pakar terowongan yang memberikan arahan kepada petugas di lapangan melalui grup WhatsApp. Komunikasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam menentukan strategi pencarian, selain dukungan helikopter dan alat-alat berat.

Arnold Dix, seorang pakar pembangunan terowongan yang ikut memberikan saran kepada otoritas Nepal, menggambarkan operasi tersebut sebagai rangkaian tantangan yang datang silih berganti.

"Ibarat lapisan demi lapisan keajaiban," kata Dix seperti dikutip BBC.

Menurut Dix, persoalan pertama yang harus diatasi adalah menemukan kembali lokasi pintu masuk terowongan. Banjir dan longsoran telah mengubah kondisi geografis kawasan tersebut sehingga lokasi yang sebelumnya mudah dikenali kini tertutup material tanah dan bebatuan.

Dix yang juga menjabat sebagai ketua International Tunnelling and Underground Space Association mengatakan dirinya belum pernah menghadapi operasi penyelamatan dengan kondisi serupa.

Pintu masuk terowongan yang sebelumnya berada di lereng bukit bahkan tertimbun sepenuhnya akibat longsoran dalam jumlah besar.

Untuk menentukan lokasi yang tepat, tim memanfaatkan berbagai sumber informasi. Mulai dari teknik rekayasa, peta topografi lama, citra satelit pascabencana, hingga rekaman video yang diambil dari helikopter.

Mereka juga menggunakan berbagai tanda yang masih terlihat di permukaan, termasuk tiang-tiang listrik, sebagai petunjuk untuk memperkirakan posisi terowongan.

Setelah lokasi pintu masuk berhasil ditemukan, perjuangan belum berakhir. Tim harus memastikan arah penggalian agar dapat mencapai posisi kedua pekerja yang diyakini masih berada di dalam.

"Kami tahu mereka berada di depan, tetapi kami tidak tahu persis di mana. Jadi kami harus mulai menggali ke arah yang benar. Dan kami menyimak apakah bisa mendengar seseorang," jelas Dix.

Lumpur dan Batu Menghambat Evakuasi

Terowongan yang menjadi tempat kedua pekerja bertahan hidup telah dipenuhi lumpur dan bebatuan akibat banjir. Beberapa batu berukuran sangat besar bahkan disebut memiliki ukuran lebih besar daripada mobil.

Tim penyelamat harus menggali dan membuka jalur secara bertahap. Dalam kondisi tertentu, mereka terpaksa menggunakan bahan peledak untuk menyingkirkan material yang menghalangi jalan.

Penggunaan bahan peledak menjadi keputusan yang sangat berisiko karena para korban masih berada di dalam terowongan.

"Kami harus menggunakan bahan peledak yang biasanya tidak pernah kami lakukan karena risiko meledakkan orang-orang yang terjebak di dalam terowongan dan juga membahayakan diri kami sendiri," ujar Dix.

Banjir Bandang Tewaskan Ribuan Orang

Bencana besar tersebut terjadi setelah material berupa es, batu, dan lumpur menerjang kawasan lembah di wilayah Nepal yang berbatasan dengan Tibet, China, pada Rabu (26/8).

Para pejabat dan tim penyelamat menduga runtuhnya gletser di bagian hulu Sungai Trishuli menjadi salah satu pemicu bencana tersebut. Material longsoran kemudian bergerak menuju wilayah yang memiliki sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.

Sedikitnya 900 orang dilaporkan sempat terjebak di dalam terowongan yang berkaitan dengan enam proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli.

Bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Sedikitnya 1.252 orang dilaporkan meninggal dunia di wilayah Nepal. Banjir bandang menghancurkan serta merusak rumah, jalan, sekolah, dan berbagai fasilitas lainnya di sejumlah kawasan yang berbatasan dengan Tibet.

Lebih dari 4.200 orang lainnya masih dinyatakan hilang, sementara ribuan warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Dampak bencana juga dirasakan di wilayah Tibet, China. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 21 orang meninggal dunia dan sekitar 541 orang masih dinyatakan hilang.

Di tengah skala bencana yang begitu besar, keberhasilan menemukan Sanjay Sah dan Kabir Maharjan dalam keadaan hidup setelah sembilan hari terjebak di dalam terowongan menjadi kabar yang membawa harapan sekaligus kelegaan bagi keluarga dan tim penyelamat.

Tidak ada komentar:

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update