Notification

×

Iklan

Iklan



Tag Terpopuler

Pemerintah Perkuat Penanganan Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

Senin, 07 September 2026 | 07.36 WIB Last Updated 2026-09-07T00:37:44Z
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026. (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

MalangBerita.com, JAKARTA – Pemerintah terus meningkatkan langkah antisipasi menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Berbagai instansi terkait dikerahkan untuk memantau pergerakan abu vulkanik, menjaga keselamatan penerbangan, hingga mempersiapkan bantuan bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan pemantauan secara intensif selama 24 jam. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui arah pergerakan abu vulkanik sekaligus mengantisipasi gangguan terhadap penerbangan dan kondisi perairan di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan pengamatan citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG menemukan dua kelompok utama sebaran abu vulkanik. Material erupsi terpantau bergerak hingga wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, serta Bengkulu.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta langsung melakukan pemantauan setelah erupsi pertama terjadi pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.23 WIB.

Tidak lama kemudian, peringatan penerbangan SIGMET atau Significant Meteorological Information diterbitkan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap keberadaan abu vulkanik di ruang udara.

Menurut Andri, informasi SIGMET terbaru menunjukkan abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur. Sementara itu, pada ketinggian hingga 50.000 kaki, material abu bergerak menuju wilayah barat.

Pada ketinggian 20.000 kaki, abu bergerak dari arah timur laut hingga selatan dan berpotensi memengaruhi wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta sejumlah perairan di sekitarnya.

Sedangkan pada ketinggian 50.000 kaki, sebaran abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda hingga kawasan Samudra Hindia.

Belum Ada Penetapan Status Darurat

Meskipun sejumlah wilayah telah terdampak, hingga Minggu pagi belum ada pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, yang menetapkan status keadaan darurat akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebutkan, sementara ini terdapat tiga kabupaten dengan total 15 kecamatan yang masuk dalam wilayah terdampak.

Ketiga kabupaten tersebut adalah Lampung Selatan, Pandeglang, dan Tanggamus.

Suharyanto menjelaskan, penetapan status keadaan darurat penting karena menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengajukan dukungan dan bantuan kepada pemerintah pusat melalui BNPB.

Meski demikian, BNPB tidak menunggu hingga status tersebut ditetapkan untuk melakukan tindakan. Pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap masyarakat tetap dilakukan.

Delapan Bandara Sempat Ditutup

Dampak abu vulkanik juga dirasakan sektor penerbangan. Kementerian Perhubungan memperpanjang penghentian sementara operasional delapan bandara yang berada di wilayah terdampak.

Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap perkembangan abu vulkanik serta kondisi ruang udara yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, berdasarkan pemantauan hingga pukul 17.00 WIB, angin membawa abu vulkanik menuju timur dengan kecepatan sekitar 5 knot pada ketinggian 15.000 kaki.

Setelah berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan penerbangan, pemerintah kemudian memutuskan memperpanjang penutupan bandara hingga pukul 00.00 WIB.

Delapan bandara yang terdampak meliputi Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Halim Perdanakusuma Jakarta, Radin Inten II Lampung, dan Husein Sastranegara Bandung.

Selain itu, terdapat Bandara Budiarto Curug Tangerang, Pondok Cabe Tangerang Selatan, Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan.

OMC Disiapkan untuk Mengurangi Abu Vulkanik

Pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak abu vulkanik yang masih berada di udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.

BNPB menempatkan satu pesawat di Bandara Pondok Cabe untuk mendukung pelaksanaan OMC yang direncanakan berlangsung hingga Minggu malam.

Suharyanto menjelaskan, terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan dalam operasi tersebut. Apabila tersedia awan yang berpotensi menghasilkan hujan, pemerintah akan melakukan modifikasi agar hujan dapat turun dan membantu membersihkan abu vulkanik dari atmosfer.

Hujan dengan intensitas cukup tinggi diharapkan dapat membawa partikel abu yang berada di udara turun ke permukaan sehingga kondisi lingkungan menjadi lebih baik.

Namun, jika tidak terdapat pertumbuhan awan hujan yang memadai, pemerintah menyiapkan alternatif berupa penggunaan water mist atau kabut air untuk membantu mengurangi konsentrasi partikel abu vulkanik.

Bantuan untuk Daerah Terdampak Mulai Dipersiapkan

Selain melakukan pemantauan dan penanganan teknis, pemerintah pusat juga menyiapkan dukungan logistik bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan dua mekanisme untuk menyalurkan bantuan.

Mekanisme pertama dilakukan berdasarkan pengajuan kebutuhan dari pemerintah daerah. Setelah kebutuhan masyarakat teridentifikasi, pemerintah pusat akan mengoordinasikan pengiriman bantuan, termasuk melalui jalur laut.

Sejumlah armada dari berbagai lembaga, seperti TNI Angkatan Laut, kepolisian, dan badan usaha milik negara, disiapkan untuk mendukung proses distribusi apabila diperlukan.

Sementara mekanisme kedua memungkinkan pemerintah pusat mengambil inisiatif langsung ketika menemukan daerah yang membutuhkan bantuan tetapi belum menyampaikan permintaan secara resmi.

Langkah tersebut terutama diarahkan kepada daerah yang memiliki keterbatasan kemampuan anggaran. Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian adalah ketersediaan masker bagi warga yang terdampak abu vulkanik.

Presiden Ajak Masyarakat Tetap Tenang dan Waspada

Presiden RI Prabowo Subianto turut menyampaikan pesan kepada masyarakat menyikapi aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Prabowo mengajak masyarakat untuk berdoa agar seluruh warga Indonesia, terutama mereka yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda, diberikan keselamatan serta ketabahan dalam menghadapi bencana.

Presiden juga meminta masyarakat yang berada di Jakarta, Banten, Lampung, dan kawasan Selat Sunda agar tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dan mematuhi zona bahaya maupun batas aman yang telah ditentukan oleh pihak berwenang.

Prabowo mengatakan dirinya terus mendapatkan laporan mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ia juga telah meminta seluruh jajaran terkait, mulai dari BNPB, BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan hingga kementerian dan lembaga lainnya, untuk terus memonitor kondisi di lapangan.

Bagi masyarakat yang terkena paparan abu vulkanik, Presiden mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dengan menggunakan masker atau pelindung saluran pernapasan. Warga juga dianjurkan mengurangi kegiatan di luar rumah ketika konsentrasi abu cukup tinggi serta mengikuti arahan tenaga kesehatan dan pemerintah daerah.

Pemerintah memastikan perkembangan situasi akan terus dipantau. Berbagai langkah lanjutan akan dilakukan sesuai kondisi di lapangan dengan prioritas utama menjaga keselamatan masyarakat dan meminimalkan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Tidak ada komentar:

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update